MENJELANG berakhirnya masa kepemimpinannya di KONI Kalimantan Timur (Kaltim), Rusdiansyah Aras tampaknya ingin meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar catatan medali.
Di tengah persiapan Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Kaltim, ia memilih menyiapkan fondasi jangka panjang agar olahraga prestasi di Benua Etam tetap mampu bersaing, bahkan ketika tantangan ke depan diperkirakan semakin berat.
Langkah itu diwujudkan melalui Diskusi Besar Olahraga Prestasi Kaltim yang digelar bersama Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LEKOP) Kaltim di Kolam Ulin Arya, Samarinda, Selasa (2/6).
Forum tersebut mempertemukan akademisi, praktisi olahraga, pemerintah, hingga para pemangku kebijakan. Tujuannya bukan sekadar bertukar gagasan, melainkan merumuskan arah pembangunan olahraga Kaltim untuk empat tahun mendatang.
Bagi Rusdiansyah, diskusi itu bukan agenda seremonial menjelang pergantian kepengurusan.
Ia ingin memastikan estafet kepemimpinan di KONI Kaltim tidak hanya berganti figur, tetapi juga memiliki arah yang jelas.
“Kita harus memastikan estafet kepemimpinan tidak hanya berpindah orang, tetapi juga membawa arah yang jelas. Karena itu, seluruh masukan dalam forum ini diharapkan menjadi referensi bagi pengurus berikutnya,” ujar Rusdi.
Di hadapan peserta diskusi, Rusdi mengingatkan bahwa olahraga prestasi Kaltim sedang memasuki babak baru.
Persaingan antar daerah semakin ketat. Pada saat yang sama, kemampuan fiskal pemerintah daerah diperkirakan tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu.
Situasi itu membuat pola pembinaan atlet harus berubah.
Menurutnya, pendekatan lama yang hanya fokus menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) tidak lagi cukup. Pembinaan harus dibangun melalui sistem yang berkelanjutan, berbasis data, dan memiliki target yang terukur.
Selama memimpin KONI Kaltim, Rusdi mulai mendorong digitalisasi pembinaan olahraga. Mulai dari pembangunan basis data atlet, pemantauan prestasi, hingga monitoring penggunaan anggaran.
Langkah tersebut dinilai menjadi pondasi penting menuju tata kelola olahraga yang lebih modern dan profesional.
Pandangan Rusdi mendapat dukungan dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Muhammad Faisal.
Menurut Faisal, dunia olahraga harus mulai beradaptasi dengan perubahan kondisi keuangan daerah yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Ia mengungkapkan, APBD Kaltim yang sebelumnya berada di kisaran Rp20 triliun hingga Rp25 triliun kini turun menjadi sekira Rp14 triliun. Tahun depan bahkan diperkirakan hanya berada di angka Rp12 triliun.
Kondisi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pembinaan olahraga tidak bisa terus bergantung sepenuhnya pada dana pemerintah.
“Dulu APBD kita berada di kisaran Rp20 triliun sampai Rp25 triliun. Sekarang turun menjadi sekitar Rp14 triliun dan tahun depan diprediksi sekitar Rp12 triliun. Artinya, kita harus mulai berpikir bahwa KONI bukan lagi satu-satunya sumber pembiayaan prestasi olahraga,” kata Faisal.
Ia menilai gagasan yang dibangun melalui forum tersebut penting karena memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang akan dihadapi pengurus KONI Kaltim periode berikutnya.
Sorotan juga datang dari praktisi olahraga sekaligus anggota DPRD Kaltim, Rusman Ya’qub. Menurutnya, keberhasilan organisasi olahraga tidak semata ditentukan oleh besarnya anggaran yang dimiliki.
Kepemimpinan yang memahami dunia olahraga dan tata kelola yang profesional justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Rusman mengingatkan agar kepengurusan mendatang tetap menjaga semangat pembinaan yang telah dibangun selama ini.
“Jangan sampai KONI menjadi tempat menitipkan orang yang tidak memahami olahraga. KONI adalah tempat pengabdian dan perjuangan untuk kemajuan olahraga,” tegasnya.
Di sisi lain, akademisi olahraga Rohadi mengingatkan bahwa Kaltim masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah yang belum selesai.
Berdasarkan hasil kajian Indeks Pembangunan Olahraga (IPO), tantangan terbesar masih berada pada ketersediaan ruang olahraga, kualitas sumber daya manusia, serta tingkat kebugaran masyarakat.
Karena itu, penguatan sport science, peningkatan kompetensi pelatih, hingga pembangunan ekosistem olahraga yang sehat harus menjadi prioritas jangka panjang.
Semua masukan yang muncul dalam diskusi tersebut kini dirangkum menjadi bahan penyusunan cetak biru olahraga prestasi Kaltim.
Dokumen itu diharapkan menjadi pegangan bagi kepengurusan KONI Kaltim periode 2026-2030 dalam menyusun program pembinaan dan kebijakan olahraga. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















