AKTIVITAS truk pengangkut material koral di kawasan Tanjung Laut Indah, Bontang kembali memicu kekhawatiran. Kali ini, ceceran kerikil dari armada yang abai keselamatan mengancam keselamatan para pengendara melintas.
Sejumlah armada kedapatan melintas tanpa penutup terpal di Jalan Pelabuhan III, Senin (13/7/2026). Akibatnya, material pasir halus hingga kerikirl beterbangan dan berhamburan di sepanjang aspal, menciptakan ruang lindap yang membahayakan pandangan serta traksi ban motor.
Situasi ini memicu kekecewaan bagi masyarakat setempat. Pasalnya, pihak kelurahan, perwakilan perusahaan, dan warga sebelumnya sudah duduk bersama menyepakati aturan main baku.
Setiap truk pengangkut wajib menutup muatannya rapat-rapat dengan terpal. Tak hanya itu, pihak pengusaha juga dibebani tanggung jawab moral untuk menyapu dan menyemprot sisa serpihan tanah atau batu yang tercecer di jalan.
Lurah Tanjung Laut Indah, Elis Biantoro, bergerak cepat setelah ruang kerjanya dibanjiri aduan warga. Pihaknya langsung menerjunkan tim untuk mengusut pelanggaran yang berulang ini.
“Ya, kami sudah menerima keluhan dari warga terkait hal itu. Tadi langsung saya tindak lanjuti karena memang hal ini membahayakan dan mengganggu pengguna jalan,” ujar Lurah Elis saat dikonfirmasi via sambungan telepon, Senin sore.
Lurah Elis menekankan bahwa Jalan Pelabuhan III bukan sekadar jalur pelintasan logistik komersial. Jalur ini merupakan urat nadi utama bagi ribuan warga yang bermukim di lingkungan RT 11, 12, 13, 14, hingga RT 31.
“Kondisi jalan harus tetap aman dan bersih. Jangan sampai ada material yang berpotensi menimbulkan kecelakaan bagi warga kami,” tegasnya.
Petugas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) bersama Ketua RT 14 yang melakukan inspeksi mendadak di lapangan menemukan bukti kuat. Pelanggaran aturan muatan ini rupanya bukan yang pertama kali terjadi.
Menariknya, dari hasil penelusuran rantai logistik, truk-truk nakal tersebut tidak hanya milik korporasi lokal. Sebagian armada justru datang dari luar daerah, tepatnya milik pengusaha material asal Kutai Timur.
Menyikapi temuan tersebut, kelurahan langsung melayangkan teguran keras. Pihak perusahaan lokal bersama pemilik material dari Kutai Timur akhirnya dipaksa turun ke jalan untuk membersihkan ceceran pasir hari itu juga.
Guna mengantisipasi kucing-kucingan di kemudian hari, Ketua RT 14 langsung memasang papan imbauan permanen di titik strategis jalur tersebut.
“Artinya dari perusahaan setempat sebenarnya sudah komitmen. Hanya beberapa oknum sopir saja yang bermasalah, terutama truk dari luar daerah,” jelas Elis meluruskan duduk perkara.
Kelurahan Tanjung Laut Indah bersama Satpol PP dan Trantib kini bersiap memperketat pengawasan. Patroli berkala akan ditingkatkan guna menyaring armada nakal yang nekat melintas tanpa terpal pelindung.
“Kami harap kejadian ini tidak terulang lagi. Kasihan warga yang terdampak kalau sampai ada yang celaka,” tegas Elis. (*)

















