Pranala.co, BONTANG – Kemunculan buaya di kawasan pesisir Kota Bontang dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Pemerintah Kota Bontang menilai fenomena tersebut tidak terjadi begitu saja.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyoroti kebiasaan sebagian warga yang masih membuang sampah serta limbah sisa ikan dan ayam ke laut. Limbah yang mengandung darah dinilai menjadi salah satu faktor yang menarik perhatian predator seperti buaya.
Menurut Neni, bau amis dari limbah tersebut dapat menyebar di perairan dan memancing satwa liar itu mendekat hingga ke kawasan muara bahkan permukiman warga.
“Kalau sampah atau limbah yang ada darahnya dibuang ke laut, itu bisa menarik buaya. Akhirnya buaya masuk ke wilayah pesisir bahkan dekat permukiman,” ujar Neni, Minggu (8/3/2026).
Ia menegaskan kebiasaan tersebut harus segera dihentikan. Selain mencemari lingkungan, tindakan itu juga berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat yang beraktivitas di wilayah pesisir.
Selain faktor limbah, perubahan habitat juga dinilai berpengaruh terhadap pergerakan buaya. Neni menjelaskan berkurangnya kawasan mangrove yang selama ini menjadi tempat hidup sekaligus sumber makanan satwa tersebut turut mendorong mereka berpindah ke wilayah lain.
“Mungkin sebelumnya mereka mencari makan di kawasan mangrove. Tapi karena mangrove mulai berkurang dan makanan di hulunya juga menipis, akhirnya buaya bergerak ke muara,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat kemungkinan kemunculan buaya di perairan pesisir menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Menghadapi situasi ini, Pemerintah Kota Bontang terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat pesisir agar tidak lagi menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah.
Menurut Neni, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah konflik antara manusia dan satwa liar.
“Ini harus terus kita edukasi. Masyarakat perlu diingatkan berkali-kali agar tidak membuang sampah ke laut,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah penanganan apabila buaya kembali muncul di sekitar permukiman warga.
Neni mengungkapkan Pemkot Bontang telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait, di antaranya Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kelurahan (PMK), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Namun ia mengakui, menangkap buaya bukan pekerjaan mudah. Satwa tersebut sangat peka terhadap gerakan dan dapat dengan cepat kembali ke air ketika merasa terganggu.
“Begitu ada gerakan sedikit saja, dia langsung masuk lagi ke air. Jadi memang tidak mudah menangkapnya,” ujarnya.
Sebagai alternatif, Damkartan mengusulkan penggunaan senapan anestesi atau obat bius. Dengan metode tersebut, buaya dapat ditembak menggunakan peluru penenang sehingga lebih aman saat proses penanganan.
“Kalau ditembak dengan anestesi, buayanya akan mengantuk, baru bisa ditangkap,” jelas Neni.
Meski pemerintah menyiapkan langkah penanganan, Neni menegaskan upaya tersebut tidak akan efektif tanpa perubahan perilaku masyarakat.
Ia mengimbau warga agar lebih berhati-hati ketika beraktivitas di wilayah pesisir. Masyarakat juga diminta tidak berenang di laut, terutama di kawasan yang berpotensi menjadi jalur pergerakan buaya.
“Pemerintah akan terus berupaya, tapi masyarakat juga harus sadar. Jangan berenang di laut dan jangan lagi buang sampah ke laut,” tegasnya. (ADS/BTG/FR)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















