CITRA Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai kota industri besar yang bertumpu pada sektor migas dan pupuk, geliat usaha kecil justru menjadi penopang baru ekonomi warga. Dalam empat bulan pertama 2026, sebanyak 657 Nomor Induk Berusaha (NIB) baru terbit di Bontang, Kaltim. Hampir seluruhnya berasal dari pelaku Usaha Mikro dan Kecil (UMKM).
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bontang menunjukkan, 99,7 persen izin usaha yang diterbitkan melalui sistem Online Single Submission (OSS) didominasi sektor UMKM. Angka itu memperlihatkan perubahan menarik di kota yang selama ini identik dengan industri skala besar.
Fenomena tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa masyarakat mulai melihat usaha mandiri sebagai peluang ekonomi yang semakin realistis. Mulai dari usaha kuliner rumahan, jasa, perdagangan kecil, hingga bisnis berbasis digital tercatat mulai aktif mengurus legalitas usaha mereka.
Kepala DPMPTSP Bontang Muhammad Aspian Nur mengatakan meningkatnya penerbitan NIB bukan sekadar persoalan administrasi, melainkan mencerminkan perubahan perilaku pelaku usaha yang kini lebih sadar legalitas dan akses pengembangan bisnis.
“Ini menunjukkan kepercayaan publik terhadap iklim investasi di Bontang semakin baik. Kami terus memangkas birokrasi melalui sistem OSS dan layanan digital supaya pelaku usaha merasa lebih mudah dan nyaman,” ujar Aspian, Jumat (8/5/2026).
Tak hanya dari sisi jumlah usaha, dominasi juga terlihat pada investasi domestik. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat mencapai 99,7 persen, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) hanya sekitar 0,3 persen. Kondisi itu menunjukkan pergerakan ekonomi lokal di Bontang saat ini lebih banyak ditopang pelaku usaha dalam negeri dibanding investasi asing.
Di sisi lain, mayoritas usaha yang mengurus izin masuk kategori risiko rendah, yakni 63,2 persen. Sisanya terdiri dari risiko menengah rendah 20,7 persen, menengah tinggi 12,5 persen, dan risiko tinggi 3,7 persen. Menurut Aspian, pola tersebut menunjukkan pertumbuhan usaha masyarakat masih didominasi sektor-sektor yang relatif mudah dijalankan dan cepat berkembang.
“Yang risikonya rendah tentu lebih cepat prosesnya. Tapi untuk usaha dengan risiko tinggi tetap ada pengawasan dan mekanisme yang harus dipenuhi,” katanya.
Pertumbuhan UMKM ini sekaligus memberi gambaran perubahan wajah ekonomi Bontang. Jika sebelumnya denyut ekonomi banyak bergantung pada perusahaan besar, kini sektor usaha kecil mulai mengambil ruang lebih besar dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah kota pun mengaku tengah menyiapkan dukungan lanjutan berupa akses permodalan dan insentif daerah agar tren pertumbuhan usaha baru tetap terjaga hingga akhir tahun. [RE]
Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami


















