BONTANG – Fenomena ikan mati massal di perairan Santan Ilir menimbulkan keresahan di kalangan nelayan. Kejadian ini mencuat setelah sebuah video yang diunggah akun Facebook Nina Iskandar memperlihatkan ratusan ikan mengapung dalam kondisi tak bernyawa.
Dalam video yang viral tersebut, tampak ikan-ikan terperangkap di jaring nelayan dalam keadaan mati. Unggahan itu disertai narasi yang mencerminkan keprihatinan masyarakat pesisir. “Video hari ini, nelayan temukan lagi ikan mati… Makan apa lagi sudah nelayan ini?” tulis Nina Iskandar dalam unggahannya.
Unggahan tersebut langsung menuai respons dari warganet. Banyak di antaranya menduga penyebab kematian ikan berkaitan dengan aktivitas industri di sekitar wilayah tersebut. Nina Iskandar juga menyentil keberadaan pabrik di Bontang yang dianggap merugikan nelayan di Santan Ilir. “Bangun pabriknya di Bontang, nelayan yang sengsara warga Santan Ilir,” lanjutnya dalam keterangan video.
DPRD Bontang Turun Tangan
Menanggapi kejadian ini, Anggota DPRD Bontang Muhammad Sahib, atau yang akrab disapa Ibe Santan, menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal kasus ini dengan serius. Ia meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera melakukan investigasi secara transparan guna memastikan penyebab pasti kematian ikan-ikan tersebut.
“Pada dasarnya saya meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk benar-benar melakukan investigasi secara transparan agar penyebab kematian ikan ini dapat dipastikan,” ujar Muhammad Sahib, Senin (24/3/2025).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Komisi C DPRD Kota Bontang akan menjalankan fungsi pengawasan dengan maksimal dan segera memanggil semua pihak terkait.
“Kami dari Komisi C betul-betul akan melaksanakan tupoksi kami sebagai pengawas dan segera memanggil semua pihak yang terlibat untuk membahas permasalahan ini dengan serius,” tambahnya.
Wilayah Terdampak dan Dampak Terhadap Nelayan
Muhammad Sahib menjelaskan bahwa wilayah terdampak masih termasuk dalam area Bontang, tepatnya di sekitar Segendis hingga Muara Santan yang masuk wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Ia menekankan bahwa kejadian ini tidak boleh dianggap sepele karena kawasan tersebut merupakan sumber utama mata pencaharian para nelayan.
“Wilayah ini masih dalam Bontang. Kita tidak bisa membiarkan kejadian ini terus berulang tanpa ada kejelasan. Nelayan kita butuh kepastian, apakah ini benar akibat limbah atau ada faktor lain,” tegasnya.
Jika hasil investigasi membuktikan bahwa kejadian ini disebabkan oleh limbah industri, Muhammad Sahib menegaskan bahwa perusahaan yang terlibat harus bertanggung jawab dan memberikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak.
“Berikan kompensasi kepada masyarakat yang terdampak. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga harus mendapatkan sanksi tegas dari pemerintah,” pungkasnya.
Polisi Lakukan Penyelidikan
Kasat Reskrim Polres Bontang, AKP Hari Supranoto, menyatakan pihaknya belum menerima laporan resmi terkait fenomena ini. Meski demikian, pihaknya telah merespons informasi tersebut dan mulai melakukan penyelidikan di lapangan.
“Laporan resmi belum masuk, namun kita merespons berita tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (24/3/2025).
Ia menambahkan bahwa saat ini pihak kepolisian masih mengumpulkan bukti di lapangan untuk memastikan kebenaran informasi serta menentukan apakah kejadian tersebut mengandung unsur tindak pidana yang perlu ditindaklanjuti dengan proses penyidikan. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami

















Comments 5