KERESAHAN mulai menyelimuti masyarakat pesisir Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur. Warga melaporkan dugaan pencemaran laut di sekitar jeti perusahaan perkebunan kelapa sawit setelah menemukan perubahan kondisi perairan yang dinilai tidak biasa.
Air laut disebut tampak keruh pada waktu tertentu. Di beberapa titik, warga juga melihat lapisan minyak di permukaan laut serta endapan yang diduga berkaitan dengan aktivitas bongkar muat Crude Palm Oil (CPO) maupun operasional kapal di kawasan tersebut.
Laporan itu pertama kali diterima Ketua Forum Peduli Masyarakat Pesisir Sangsaka, Sapina Wahdah, dari warga pada 19 Juni 2026 sekira pukul 10.55 WITA. Informasi disampaikan melalui foto dan video yang memperlihatkan kondisi perairan di sekitar kawasan pelabuhan.
“Dari situ saya tahu kalau peristiwa itu terjadi pagi hari saat warga mengantar karyawan kerja,” kata Sapina saat dihubungi, Rabu (24/6/2026).
Tak ingin hanya mengandalkan laporan, Sapina mengaku langsung turun ke lapangan bersama seorang rekan dan operator kapal. Mereka memantau kondisi laut di sekitar jeti lama maupun area yang berdekatan dengan jeti baru perusahaan.
Dari hasil pengecekan tersebut, ia mengaku masih menemukan adanya cairan yang mengapung di permukaan laut.
“Kami lihat langsung di depan jeti lama yang berdekatan dengan jeti baru, masih ada cairan yang mengapung di laut,” ujarnya.
Menurut Sapina, dugaan pencemaran di kawasan itu bukan kejadian baru. Keluhan serupa disebut beberapa kali muncul dari masyarakat yang sehari-hari menggantungkan hidup pada laut.
Kondisi tersebut membuat nelayan khawatir. Sebab, perubahan kualitas perairan berpotensi memengaruhi hasil tangkapan yang menjadi sumber penghasilan utama mereka.
Bagi warga pesisir, laut bukan sekadar ruang aktivitas ekonomi. Laut adalah tempat mereka mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga, sekaligus menjaga keberlangsungan hidup komunitas yang telah lama tumbuh di Pulau Miang.
Sapina menilai persoalan ini tidak boleh dianggap sepele. Jika dugaan pencemaran terus terjadi tanpa penanganan yang jelas, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.
Mulai dari menurunnya kualitas lingkungan pesisir, berkurangnya populasi ikan di area tangkapan nelayan, hingga gangguan terhadap habitat biota laut yang menjadi bagian penting dari ekosistem perairan.
Selain aspek lingkungan, ia juga mengingatkan adanya potensi dampak sosial yang lebih besar.
“Kalau tidak segera ditangani, bisa memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat,” katanya.
Kekhawatiran itu muncul karena masyarakat berharap aktivitas industri dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Ketika salah satu mulai terganggu, kepercayaan publik ikut dipertaruhkan.
Hingga berita ini diterbitkan, sumber pasti endapan maupun lapisan minyak yang ditemukan di perairan sekitar Pulau Miang masih belum diketahui.
Pihak perusahaan yang disebut berada di kawasan tersebut juga belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pencemaran yang disampaikan masyarakat.
Warga kini berharap ada pemeriksaan menyeluruh dari instansi terkait agar penyebab perubahan kondisi laut dapat diketahui secara jelas. Bagi mereka, kepastian menjadi hal penting agar keresahan yang berkembang di tengah masyarakat tidak terus membesar. [HAF]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















