PRANALA.CO – Rencana pembangunan pertashop oleh PT BME mendapat respon dari pemkot. Bahkan, pemkot menginginkan agar pengajuan itu berubah menjadi SPBU mini. Imbas saat ini kurangnya jumlah SPBU di Kota Taman.
Kabag Perekonomian dan SDA Setda Moch Arif Rochman menerangkan perlu waktu satu hingga dua tahun untuk perubahan pengajuan ini. Utamanya menyangkut penggunaan lahan yang merupakan aset pemkot.
“Jadi harus ada mekanisme hibah dalam bentuk barang milik daerah,” terangnya.
Terkait perbedaan pertashop dan SPBU mini ialah bahan bakar yang dapat dijual. Jika pertashop hanya mengakomodasi pertamax dan dexlite.
Tetapi untuk SPBU mini ditambah pertalite. Namun demikian beberapa persyaratan dari pertamina juga harus dilengkapi.
“Ini manfaatnya untuk jangka panjang. Jika tambah jumlah SPBU maka kuota yang diberikan pertamina juga meningkat,” sebutnya.
Nantinya lahan yang dipakai ialah eks kantor kelurahan Bontang Kuala. Penggunaan skema sewa tidak memungkinkan. Sebab konstruksi yang sudah ada tidak boleh diubah.
“Skema yang tepat ialah hibah. Karena kalau kerjasama pemanfaatan juga harus melalui lelang,” ungkapnya.
Sebagian lahan itu nantinya juga akan digunakan kantor PT BME. Kondisi ini tentu menguntungkan perseroda tersebut. Sebab selama ini perusahaan harus menyewa.
Sebagai informasi, permasalahan antrean panjang kendaraan pengisi bahan bakar masih belum terpecahkan. Bahkan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum alias SPBU di Bontang masih terbilang minim.
Saat ini hanya ada empat SPBU aktif di Bontang, Kalimantan Timur. Mulai dari Akawy, Kopkar PKT, Tanjung Laut, dan Kilometer Tiga. Satu SPBU yakni Bolumbuen di KS Tubun juga mulai perlahan beroperasi.
Oleh sebab itu diperlukan tambahan satu SPBU lagi.
Ia meminta kepada pengusaha yang tertarik di bidang penjualan bahan bakar untuk melirik potensi itu.
“Tentunya ini butuh peran swasta,” terangya.
Tak hanya itu, Pemkot Bontang pun juga berkoordinasi dengan Pertamina agar mau membangun SPBU.












