RENCANA aksi unjuk rasa besar-besaran menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Kota Balikpapan hari ini berjalan di luar prediksi. Gerakan yang awalnya diperkirakan bakal mengepung Kantor DPRD Balikpapan dengan ribuan massa, justru terpantau sepi di lapangan.
Kendati jumlah demonstran yang datang tak sesuai estimasi, aparat kepolisian tetap bersiaga penuh. Uniknya, alih-alih menampilkan kesan tegang dengan barikade huru-hara yang kaku, pemandangan di depan gedung wakil rakyat tersebut justru terasa lebih adem.
Polresta Balikpapan sengaja menerjunkan barisan Polisi Wanita (Polwan) tepat di garis terdepan untuk menyambut kedatangan para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Balikpapan Bergerak, Senin (15/6/2026).
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold HY Kumontoy, menegaskan bahwa kehadiran ratusan personelnya hari ini bukan untuk membatasi ruang gerak mahasiswa. Menurutnya, paradigma kepolisian dalam mengawal penyampaian pendapat sudah bergeser.
“Jadi tugas ini sebenarnya bukan pengamanan, melainkan bentuk pelayanan kepada adik-adik mahasiswa,” ujar Jerrold saat ditemui di lokasi aksi.
Langkah menempatkan Polwan di barisan awal merupakan bagian dari strategi pre-emptive yang mengedepankan dialog ketimbang konfrontasi fisik. Jerrold meyakini, pendekatan psikologis yang lembut mampu meredam potensi gesekan di lapangan.
“Pre-emptive ini salah satunya bentuk dialog. Karena kami yakin, setiap kelompok mahasiswa yang datang pasti ada mahasiswinya. Mereka sengaja kami tempatkan di depan untuk memastikan segala sesuatu berjalan nyaman dan aman,” jelasnya.
Sebelumnya, pihak kepolisian menerima surat pemberitahuan bahwa demo BBM Balikpapan ini akan diikuti oleh sekitar 1.000 orang massa. Mengacu pada kalkulasi standar pengamanan, Polresta Balikpapan menerjunkan total 491 personel guna mengantisipasi situasi.
Sesuai aturan operasional, jumlah aparat minimal harus mencapai 10 persen dari total perkiraan massa. Namun, ketika waktu aksi dimulai, jumlah mahasiswa yang berkumpul di depan Kantor DPRD justru jauh dari angka laporan awal.
“Kita menurunkan 491 personel karena awalnya mereka memberitahukan jumlah peserta sekitar 1.000 orang. Ternyata yang datang hanya sedikit,” ungkap Jerrold.
Meski sempat kedodoran dalam menyesuaikan jumlah plot pasukan, kondisi ini disyukuri karena membuat situasi jauh lebih terkendali. Pelayanan dan pengawalan jalannya aspirasi pun bisa berjalan jauh lebih maksimal tanpa mengorbankan ketertiban umum.
Jerrold juga mengapresiasi para mahasiswa yang tetap menjaga koridor hukum selama menyuarakan kegelisahan rakyat terkait isu BBM ini. Arus lalu lintas di sekitar lokasi terpantau tetap lancar dan aktivitas warga tidak terganggu.
“Adik-adik bisa menyampaikan pendapat dengan tertib. Pengguna jalan lainnya maupun masyarakat yang akan pulang kerja tidak ada yang bersinggungan atau terganggu,” jelas dia. [RUL]
Nikmati berita dan informasi terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami
















