Pranala.co, BONTANG — Kota Bontang diminta menatap masa depan lebih jauh. Tidak cukup hanya dikenal sebagai kota industri. Pendidikan tinggi dan kualitas sumber daya manusia harus menjadi fondasi baru.
Pesan itu disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian. Ia berbicara dalam kegiatan sosialisasi dan diseminasi kebijakan perubahan STITEK Bontang menjadi universitas, Kamis, 18 Desember 2025, di pendopo rumah jabatan.
Suasananya hangat. Penuh refleksi.
Hetifah menegaskan, perguruan tinggi memegang peran kunci dalam menentukan arah pembangunan daerah. Di tengah persaingan global, kampus tidak boleh hanya menjadi ruang belajar di kelas.
“Kampus harus menjadi pusat riset, inovasi, dan tempat lahirnya solusi,” katanya.
Ia menyebut perguruan tinggi sebagai “pabrik SDM”. Di sanalah pengetahuan diasah. Riset dikembangkan. Jawaban atas persoalan masyarakat dirumuskan.
Hetifah memaparkan data nasional. Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi Indonesia masih berada di kisaran 32 persen. Angka itu menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah, terutama di daerah pesisir dan kepulauan.
Di banyak wilayah, anak-anak dari keluarga nelayan dan pekerja informal kerap ragu melanjutkan kuliah. Alasannya sederhana. Pendidikan tinggi belum tentu langsung mengubah kesejahteraan keluarga.
“Kalau sekolah lama tapi hidup tetap sulit, wajar mereka memilih bekerja lebih cepat. Ini yang harus dijawab dengan pendidikan yang relevan,” ujarnya.
Menurut Hetifah, Bontang memiliki modal besar untuk melompat lebih jauh. Industri sudah ada. Potensi kelautan terbuka lebar. Pariwisata, jasa, teknologi, dan lingkungan berkelanjutan juga menjanjikan.
Karena itu, pengembangan program studi di perguruan tinggi harus selaras dengan kebutuhan masa depan.
“Bontang harus melahirkan SDM unggul. Di bidang kelautan, pariwisata, teknologi, hingga lingkungan. Ini bukan soal gelar. Ini soal daya saing,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut Kalimantan Timur, termasuk Bontang, sebagai wajah Indonesia ke depan.
“Kalau Jakarta adalah Indonesia hari ini, maka Kaltim adalah Indonesia masa depan,” katanya.
Dalam perannya di DPR RI, Hetifah juga menyinggung perjuangan Komisi X mendorong reformasi kebijakan pendidikan. Salah satu isu krusial adalah minimnya anggaran pendidikan tinggi dibandingkan kebutuhan di lapangan.
Ia mengusulkan skema bantuan operasional perguruan tinggi berbasis jumlah mahasiswa. Skema ini berlaku bagi kampus negeri maupun swasta. Konsepnya serupa dana BOS di pendidikan dasar dan menengah.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan membuka akses pendidikan tinggi yang lebih adil dan berkualitas.
“Ini bukan sekadar soal angka. Ini soal keberpihakan pada masa depan generasi muda,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Hetifah mengajak semua pihak bergerak bersama. Pemerintah daerah. Perguruan tinggi. Dosen. Mahasiswa. Hingga masyarakat.
Kolaborasi dinilai menjadi kunci.
Ia optimistis, dengan inovasi dan keberanian berbenah, Bontang mampu melahirkan SDM unggul. SDM yang tidak hanya membangun daerah, tetapi juga berkontribusi bagi Indonesia.
“Bontang punya segalanya. Semangat. Potensi. Dan tokoh-tokoh hebat. Tinggal bagaimana kita mengelolanya menjadi kekuatan masa depan,” pungkas Hetifah. (ADS)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















