Samarinda, PRANALA.CO – Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda menjadi perhatian publik. Musababnya, muncul kabar mengenai potensi pengusiran seorang pasien balita, Radepa, yang tengah berjuang melawan komplikasi serius akibat hidrocephalus.
Bocah 16 bulan ini telah menjalani tiga kali operasi dan kini berada dalam kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan. Kisah Radepa menyentuh hati banyak pihak, termasuk legislator DPRD Samarinda dan aktivis perlindungan anak. Namun, benarkah ada pengusiran pasien dari rumah sakit?
Pihak RSUD AWS Samarinda, melalui Kepala Humas, dr. Arysia Andhina, menegaskan bahwa informasi tersebut kemungkinan besar adalah hasil miskomunikasi. “Mungkin ada saran untuk pulang karena tidak ada tindakan medis lanjutan saat itu, namun keputusan tetap harus melalui koordinasi dengan manajemen,” jelasnya, Rabu (23/4/2025).
Menurut Arysia, kasus yang dialami Radepa memang sangat kompleks. Alat medis yang digunakan untuk mengatasi cairan di otaknya memiliki risiko kegagalan tinggi, terutama pada anak-anak. Risiko kegagalan bisa meningkat drastis seiring pertambahan usia dan perubahan kondisi tubuh pasien.
Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Kota Samarinda, Adnan Faridhan, yang langsung meninjau ke rumah sakit bersama Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRac PPA), mengaku prihatin atas kondisi Radepa.
Ia menyatakan bahwa informasi mengenai potensi kebutaan dan kelumpuhan pada tubuh Radepa yang disampaikan oleh keluarga sangat mengkhawatirkan.
“Kami dapat informasi dari ibunya, bahwa jika ia menolak tindakan medis, maka harus keluar dari rumah sakit. Tapi saya melihat langsung, anak ini tidak mungkin dalam keadaan seperti itu dipulangkan,” ujar Adnan.
Adnan berjanji akan segera bertemu dengan Direktur RSUD AWS Samarinda untuk mencari titik terang dan solusi terbaik bagi pasien. Ia menekankan bahwa semua pihak, baik rumah sakit maupun keluarga, tentu ingin yang terbaik untuk Radepa.
“Ini bukan sekadar soal prosedur, ini tentang nyawa seorang anak yang butuh perlindungan dan harapan. Saya yakin, dengan komunikasi yang terbuka, kita bisa temukan jalan tengah yang manusiawi,” ujarnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami















