Samarinda, PRANALA.CO — Polemik ketenagakerjaan di Rumah Sakit Haji Darjad (RSHD) Samarinda terus bergulir. Setelah berbulan-bulan tanpa kejelasan, mantan karyawan RSHD akhirnya mengadukan nasib mereka langsung kepada Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer.
Komunikasi terjadi Jumat malam, 9 Mei 2025, melalui sambungan telepon WhatsApp. Tak hanya itu, percakapan antara Muflihana S — salah satu mantan karyawan — dengan mantan aktivis 98 itu sempat disiarkan langsung di media sosial TikTok selama hampir tiga menit. Percakapan yang singkat, tetapi sarat keluhan dan bukti ketidakadilan yang dirasakan puluhan mantan pegawai RSHD.
Muflihana mengungkapkan, bersama rekan-rekannya, ia telah melapor ke tiga instansi resmi: Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Samarinda, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kaltim, hingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltim. Namun, menurutnya, tidak ada respon positif dari pihak manajemen rumah sakit.
“Manajemen sudah berkali-kali dipanggil, tapi tak pernah hadir. Bahkan, pengacaranya malah mau laporkan anggota dewan,” ujar perempuan yang dulu bertugas di bagian resepsionis RSHD Samarinda itu.
Pernyataan itu memancing reaksi tegas dari Wamenaker Immanuel Ebenezer. “Widih, kurang ajar banget. Kok begitu?” cetusnya dalam percakapan yang disiarkan publik.
Kondisi semakin rumit setelah, pada Rabu 7 Mei 2025, manajemen RSHD Samarinda secara sepihak menutup rumah sakit. Akses komunikasi dengan karyawan dan mantan karyawan pun diputus. Di pintu rumah sakit, hanya ditempel secarik kertas pengumuman bahwa pelayanan rumah sakit dihentikan sementara dan hak karyawan dijanjikan akan dilunasi pada 29 Agustus 2025.
“Lalu, karyawan yang dari Januari belum digaji, disuruh makan apa sampai Agustus, pak? Kami sudah lapor ke mana-mana, tapi mereka tutup komunikasi terus,” keluh Muflihana.
Ia menambahkan, para mantan karyawan sempat menggelar aksi damai. Namun, lagi-lagi tak ada satupun dari manajemen yang mau menemui mereka. Kini mereka berencana melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
Mendengar deretan keluhan tersebut, Immanuel Ebenezer tak tinggal diam. Ia meminta seluruh mantan karyawan dan karyawan aktif yang belum menerima hak mereka agar segera mengumpulkan seluruh bukti.
“Misalnya ijazah ditahan, kumpulkan. Nanti kita satu titik, kita datangi pelaku-pelaku usahanya ya,” tegasnya.
Ia memastikan akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kalimantan Timur dalam waktu dekat. Bahkan, Muflihana S diminta ikut dalam sidak tersebut agar bisa menunjukkan langsung kondisi di lapangan.
“Nanti kumpulkan data-datanya. Kita akan sidak, dan Mba ikut ya. Jangan enggak,” pinta Immanuel Ebenezer. [FAI]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















