Samarinda, PRANALA.CO – Pemprov Kaltim resmi meluncurkan Program Gratispol Generasi Emas Senin, 21 April 2025 lalu. Membuka peluang pendidikan dari jenjang Diploma hingga Doktoral, bahkan spesialisasi, bagi putra-putri daerah yang siap menantang dunia akademik di luar Bumi Mulawarman.
Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kaltim, Dasmiah, mengungkapkan bahwa program ini tak hanya menyasar pelajar berprestasi, tetapi juga mendorong keadilan akses pendidikan dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan anggaran.
“Semua pelamar akan melalui proses skoring dan seleksi, kecuali untuk mahasiswa baru yang lolos SNBP ke 10 perguruan tinggi terbaik nasional versi QS Ranking, mereka otomatis lolos tanpa skoring,” terangnya.
Melalui laman gratispol.kaltimprov.go.id, para mahasiswa dapat mendaftar mandiri, mengunggah dokumen yang dibutuhkan, dan mengikuti seleksi berdasarkan sistem peringkat. Jika dinyatakan lolos dan masuk kuota, mahasiswa akan menerima SK Gubernur sebagai bukti penerima manfaat.
Menariknya, besaran bantuan beasiswa dibedakan berdasarkan jenjang dan program studi, dengan batas maksimum per semester yang cukup kompetitif. Misalnya, mahasiswa kedokteran bisa mendapatkan hingga Rp17,5 juta per semester, sedangkan untuk jenjang Spesialis-2, bantuan bisa mencapai Rp35 juta per semester.
Berikut ringkasan plafon beasiswa Gratispol Luar Daerah:
- D3 dan S1 Umum: Rp7.500.000
- S1 Farmasi: Rp10.000.000
- S1 Kedokteran: Rp17.500.000
- Profesi Dokter/Dokter Gigi: Rp17.500.000
- Profesi Ners, Bidan, Apoteker: Rp12.000.000
- S2 Semua Prodi: Rp12.500.000
- S3 Semua Prodi: Rp17.500.000
- Spesialis 1 & 2: Rp25–35 juta
Dana beasiswa akan langsung disalurkan ke rekening mahasiswa per semester, dengan syarat wajib menyampaikan laporan kemajuan studi. Bila tidak, bantuan dihentikan secara otomatis.
Meski terbuka untuk semua kampus, pemerintah memberi prioritas lebih tinggi untuk kampus-kampus unggulan nasional. Jika memilih perguruan tinggi yang tidak masuk QS Top 10, bantuan akan tetap diberikan tapi dalam nilai yang lebih kecil, dan program studi yang dipilih harus memiliki akreditasi minimal “Baik Sekali”.
“Program ini bukan hanya soal membiayai kuliah, tapi juga mendorong anak-anak Kaltim kuliah di tempat yang lebih baik daripada yang tersedia di dalam daerah. Kalau sama atau bahkan lebih rendah kualitasnya, kenapa tidak kuliah di Kaltim saja?” ujar Dasmiah. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami
















Comments 1