• Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami
Minggu, Juli 19, 2026
  • Login
Pranala.co
Advertisement
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
Pranala.co
No Result
View All Result
Home Warta

Misteri Obat Ajaib dari Rimba Kalimantan

Suriadi Said by Suriadi Said
1 Juli 2020 | 00:44
Reading Time: 3 mins read
0
Bagikan di FacebookBagikan di Twitter

MISTERI kekayaan rimba Kalimantan diyakini menyimpan berbagai bahan “herbal ajaib” kembali mencuat, dibarengi asa baru bagi penyembuhan penyakit-penyakit berbahaya yang selama ini belum ditemukan obatnya.

Optimisme adanya keajaiban dari rimba Kalimantan berkat sukses dua siswa asal SMA Negeri Palangkaraya, yakni Anggina Rafitri dan Aysa Aurealya Maharani yang menemukan obat penyembuh kanker dari tumbuhan Bajakah. Hasil karya mereka meraih medali emas di World Invention Creativity Olympic (WICO), Seoul, Korea Selatan, 25 Juli 2018.

PILIHAN REDAKSI

Diundang Ngopi, Ormas Diduga ‘Dikondisikan', Kesbangpol Kaltim: Murni Silaturahmi, Bukan Redam Aksi Meski Dikumpulkan Kesbangpol, Gelombang Aksi 21 April Menguat, Siap Kepung Kantor Gubernur dan DPRD Kaltim

Diundang Ngopi, Ormas Diduga ‘Dikondisikan’, Kesbangpol Kaltim: Murni Silaturahmi, Bukan Redam Aksi

13 April 2026 | 16:01
Tutupan Hutan Kaltim 63 Persen, Jauh Lebih Tinggi dari Standar Nasional Begini Upaya Kaltim Menyelamatkan 6,5 Juta Hektare Hutan

Tutupan Hutan Kaltim 63 Persen, Jauh Lebih Tinggi dari Standar Nasional

20 Maret 2026 | 05:51

Sebenarnya cerita tentang misteri dan harapan obat ajaib dari rimba Kalimantan, termasuk di Kalimantan Utara (Kaltara) bukan kisah baru. Cerita itu misalnya sudah mencuat pada 1990-an ketika deforestasi (hilangnya hutan akibat kegiatan manusia) di Kalimantan jadi sorotan dunia.

Ada pihak yang mengambinghitamkan warga lokal berkontribusi bagi deforestasi, yakni pembalakan liar dan pembukaan lahan dengan pembakaran. Namun, pakar kehutanan Universitas Mulawarman Dr. Ir Abubakar M Lahjie M. Agr membantahnya karena justru dengan kearifan lokal, warga setempat mampu melestarikan hutan secara turun-temurun.

Pakar agroferestry lulusan Nihon University Jepang itu menjelaskan hasil studinya ternyata warga lokal membagi beberapa zona hutan, di antaranya untuk berburu, perkampungan, pemakaman, serta hutan larangan yang menjadi ‘”apotek hidup”.

Warga pedalaman ternyata sudah turun temurun sejak dulu memanfaatkan herbal di kawasan “apotek hidup” bagi kesehatan mereka. Bagi warga yang merambah zona larangan ini bisa terkena sanksi oleh lembaga adat, jadi tidak benar mereka merusak hutan.

Berbagai cerita sudah diekspose tentang “kehebatan herbal ajaib” dari hutan larangan. Namun, kala itu belum ada penelitian mendalam mengenai khasiat herbal dari rimba Kalimantan. Padahal sudah tersiar tentang serbuk bisa menangkal malaria, ramuan untuk mengatur kelahiran serta pengobatan kanker.

Ramuan Ajaib dari Bumi Borneo

Pada pertengahan 1990-an, harapan akan ditemukan ramuan ajaib kembali mencuat. Hal itu seiring hebohnya berita kasus pertama kali warga Kaltim dinyatakan positif terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) pada 1993 di Lokalosasi Loa Janan Kutai.

Kepanikan dunia kedokteran terhadap HIV/AIDS akhirnya menaruh harapan baru, termasuk wacana menemukan tumbuhan obat dari “Heart of Borneo” (Indonesia, Malaysia, dan Brunei).

Harapan untuk menemukan ramuan ajaib dari bumi Borneo tampaknya kurang mendapat respon positif. Pasalnya, berita hutan Borneo memiliki tumbuhan hebat untuk pengobatan dianggap hanya sebuah “kampanye” dari penggiat lingkungan untuk penyelamatan hutan Borneo.

Kaya Kandungan antioksidan

Bagi warga Kalimantan, sejak di bangku sekolah dasar sudah akrab dengan akar Bajakah (namanya berbeda-beda setiap wilayah). Misalnya, pelajar yang mengikuti program kepanduan/pramuka akan diajarkan cara bertahan hidup di hutan, salah satunya meminum air dari akar Bajakah. Tapi yang tahu khasiatnya sebagai obat kanker ternyata terbatas, termasuk hanya warga Dayak di Kalteng.

Pengetahuan itu kian tersebar setelah prestasi siswa Palangkaraya itu terpublikasikan. Dari pengetahuan itu, keduanya disebut menemukan obat penyembuh kanker dari akar tumbuhan Bajakah yang diolah menjadi bubuk.

Dalam uji coba terhadap tikus, Anggina dan Aysa menemukan bahwa sel tumor bisa menghilang dalam waktu dua minggu. Dari uji laboratorium, Bajakah memiliki kandungan antioksidan ribuan kali lipat ketimbang jenis tanaman lainnya.

Bajakah juga disebut teridentifikasi mengandung 40 zat yang bisa mematikan sel-sel kanker dalam tubuh. Zat-zat teridentifikasi antara lain saponin, fenolik, steroid, terpenoid, tannin, alkonoid, dan terpenoid.

Zat-zat itu memiliki fungsi bagi kesehatan, antara lain sebagai antioksidan, memaksimalkan kerja sistem imun, dan kaya vitamin A. Zat-zat itu juga disebutkan bisa mematikan sel kanker, memperbaiki struktur DNA yang rusak, dan mendetoksifikasi senyawa karsinogen.

Warga Dayak mengolah Bajakah dengan mengeringkan secara alami dengan dijemur serta menjadikan sebagai bubuk.

Bubuk itu direbus seperti minuman teh.

Berdasarkan pengakuan warga dengan rutin meminum teh Bajakah itu selama dua bulan bisa menyembuhkan tumor atau kanker payudara. Warga asli Kalimantan sejak ratusan tahun silam sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat tumbuh-tumbuhan.

Pengetahuan mereka bukan hanya untuk pengobatan tapi bisa juga untuk “meracun” dengan memafaatkan getah atau zat dari jenis tumbuhan tertentu yang dirahasiakan. Termasuk menciptakan racun anak sumpit berasal dari ramuan getah pohon.

Dengan berbagai pengetahuan itu sehingga dulu ada anggapan negatif bahwa suku asli Kalimantan memiliki “magic” yang bisa meracun orang.

Kerusakan Lingkungan

Keberhasilan meraih emas di WICO dengan uji coba pada tikus tampaknya perlu perjalanan agak panjang dalam uji fase klinis untuk manusia. Pembuktian uji fase klinis terhadap manusia tetap dibutuhkan meski ada testimoni warga yang mengaku sembuh setelah secara rutin meminum teh herbal Bajakah.

Yang jelas, kini dampak dari viralnya berita tersebut terjadi perburuan tumbuhan Bajakah..Pantauan di sejumlah toko online juga marak menjual Bajakah masih berbentuk potongan dengan harga fantastis dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Demikian pula pantauan postingan di media sosial juga tampak marak pemburuan serta penjualan Bajakah bukan hanya di Kalteng tapi pada provinsi lain di Kalimantan.

Kondisi itu cukup memprihatinkan karena dikhawatirkan terjadi kerusakan lingkungan akibat Bajakah diburu secara massal dan masif. Kekhawatiran tersebut beralasan, mengingat deforestasi dalam dua dasawarsa di Kalimantan cukup parah.

Deforestasi kian parah sejak 2000-an karena pengelolaan kawasan yang semula hanya oleh beberapa konglomerasi HPH (hak penguasaan hutan) pada Orba, kemudian diserahkan ke koperasi dan komunitas adat pada awal reformasi.

Ibarat sebuah roti jika sebelumnya hanya dimakan oleh beberapa konglomerasi maka pada awal reformasi hutan dihabisi beramai-ramai oleh koperasi dan kelompok adat, termasuk keserakahan pembalak liar menggunakan gergaji mesin dan alat berat. Setelah era industri perhutanan dan perkayuan berlalu, ternyata badai deforestasi masih berlanjut oleh mesin dari sektor perkebunan. (*)

 

 

Artikel ini sudah pernah terbit berjudul Misteri Obat Ajaib dari Rimba Kalimantan

Tags: HutanKalimantan TimurKayu bajakah
Previous Post

Jelang Pilkada, Bawaslu Ingatkan Netralitas ASN Bontang di Media Sosial

Next Post

Kaltim Anggarkan Rp500 Miliar, Baru Terpakai Rp60 Miliar untuk Corona

BACA JUGA

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

16 Juli 2026 | 16:14
Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

16 Juli 2026 | 15:56
Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

16 Juli 2026 | 15:28
Next Post

Kaltim Anggarkan Rp500 Miliar, Baru Terpakai Rp60 Miliar untuk Corona

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

15 Juli 2026 | 21:43
Bertemu Wali Kota , Bos Baru Pupuk Kaltim Bawa Misi Besar bagi Bontang

Bertemu Wali Kota , Bos Baru Pupuk Kaltim Bawa Misi Besar bagi Bontang

12 Juli 2026 | 19:01
Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

15 Juli 2026 | 16:21
Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

15 Juli 2026 | 23:21
Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

15 Juli 2026 | 13:16

Terbaru

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

16 Juli 2026 | 23:14
Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Pranala.co

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved

Jalan Seruling 4 RT 21 No. 74E Kel Bontang Baru, Kec Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur Telepon : 0811-5423-245 [Marketing/Redaksi] Email: pranaladotco@gmail.com

  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved