• Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami
Selasa, Juli 21, 2026
  • Login
Pranala.co
Advertisement
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
Pranala.co
No Result
View All Result
Home Warta

Orang Boentoet, Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo

Suriadi Said by Suriadi Said
10 Agustus 2021 | 09:48
Reading Time: 2 mins read
0
Orang Boentoet, Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo

Ilustrasi hutan di pedalaman Kalimantan | Shutterstock

Bagikan di FacebookBagikan di Twitter

pranala.co – Manusia berekor Borneo? Terdengar aneh kawan. Tapi nyatanya, legenda manusia berekor asal Bornoe pernah mencuat dan memantik sebuah penelitian yang dilakukan orang asing. Orang Boentoet.

Adalah Carl Alfred Bock, seorang naturalis dan pelancong kelahiran Kopenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orang tuanya, Norwegia. Ia penasaran akan legenda keberadaan manusia berekor asal pedalaman Kalimantan itu.

PILIHAN REDAKSI

Legenda Danau Lipan dari Kalimantan Timur

Legenda Danau Lipan dari Kalimantan Timur

21 Mei 2022 | 07:02

Awal penasaran Bock berasal dari cerita manusia berekor ini menghuni pemukiman Kesultanan Paser (Kalimantan Timur) dan tepian Sungai Teweh (Kalimantan Tengah). Ada juga yang menyebut ras manusia berekor sebagai ”Orang Boentoet”. Boleh jadi, kata ”boentoet” itu bermakna ekor atau buntut.

Dalam National Geographic Indonesia disebut, Bock melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879 utuk mencari manusia berekor tersebut. Kala itu usianya masih 30. Sebelum melakukan penelusuran ke pedalaman Kalimantan, Bock juga menjelajah di pedalaman Sumatra pada 1878.

Misinya di Kalimantan itu disebutkan sebagai pelaksanaan titah dari Gubernur Jenderal Johan van Lansberge. Memang, Bock kerap melaporkan kepada sang Gubernur soal peradaban suku-suku Dayak, terkait spesimen sejarah alam untuk museum di Belanda.

Orang Boentoet Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo1
Suku di pedalaman Borneo yang digambarkan dalam buku The Head Hunters of Borneo

Nah, dari cerita Bock soal ras manusia berekor di Kalimantan itulah sepertinya sang gubernur penasaran dan mendelegasikan untuk menemukannya. Bahkan jika bisa, memboyongnya ke Belanda.

Titah dan sayembara

Cerita dimulai ketika seorang abdi kepercayaan Kesultanan Kutai meyakinkan Bock di depan Sultan dan pengeran bahwa dirinya pernah melihat Oerang Boentoet. Digambarkannya, Orang Boentoet memiliki ekor sekira 5-10 cm. Bahkan untuk duduk saja, mereka melubangi alas agar tak menjepit ekor mereka.

Orang Boentoet diceritakan tinggal berkelompok di dalam rumah yang memiliki lubang pada lantainya. Lubang tersebut sebagai tempat meletakkan ekor ketika duduk, agar mereka merasa nyaman.

Orang Boentoet Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo2
Buku The Head Hunters of Borneo terbitan 1881 dan 1986.

Terpana dengan cerita itu, kemudian Sultan Kutai mengirimkan sang abdi menyambangi Kesultanan Paser dengan surat untuk sang Sultan Paser. Surat itu menyebutkan sebagai permintaan membawa sepasang Orang Boentoet ke Kesultanan Kutai.

Meski saat itu Bock kurang yakin dengan cerita sang abdi, Bock menjanjikan imbalan 500 gulden untuk sang abdi jika berhasil membawa ras manusia berekor itu ke Kesultanan Kutai.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar. Bock kemudian melanjutkan perjalanan dari Tenggarong ke Banjarmasin. Saat di Banjarmasin, sang abdi pun menjumpainya. Ia kecewa karena tak berhasil membawa sepasang Orang Boentoet, meski telah menyampaikan surat ke Kesultanan Paser.

Atas kejadian itu, kemudian Residen Banjarmasin pun membantu Bock dengan kembali mengirimkan surat kepada Kesultanan Paser untuk menanyakan soal Orang Boentoet tersebut.

Suku pengawal kesultanan dan pernyataan perang

Sebulan berlalu, surat balasan dari Sultan Paser pun sampai juga ke tangan Residen Banjarmasin, dan nampakya ada salah paham. Orang Boentoet yang dimaksud adalah sebutan para pengawal pribadi Sultan Paser, dan bukan ras manusia berekor.

Maka pantas jika Sultan Paser berang hingga mengancam perlawanan terhadap Sultan Kutai. Akibatnya, mereka mendirikan kubu pertahanan dan bersiap berperang melawan Kesultanan Kutai.

Orang Boentoet Legenda Manusia Berekor di Pedalaman Borneo
Kesultanan Kutai periode 1850-1899 | Wikimedia Commons/Tropenmuseum

”Jika Sultan Kutai menginginkan Orang-boentoet saya, biarkan dia ambil sendiri,” tulis Sultan Paser, seperti diceritakan Bock dalam bukunya The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881.

Diakhir cerita itu kemudian nampaknya Bock tak tertarik lagi untuk lebih jauh mencari jawaban atas misteri ras manusia berekor di pedalaman Borneo.

Memang, selama petualangannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan itu, Bock membuat jurnal yang kemudian ia tulis dalam buku petualangannya. Buku kisah Bock kemudian diterbitkan ulang seabad kemudian (1986) dengan judul serupa.

Isinya menurut The Independent merupakan pengembangan dari cerita Bock soal perjalanannya ke pedalaman Kalimantan dan pedalaman Sumatra. R.H.W. Reece adalah yang menceritakan ulang kisah itu. (*)

Tags: LegendaLegenda KalimantanOrang Boentoet
Previous Post

126 Kg Sabu Diamankan Polda Kaltara, Tersangka Utama Warga Bontang

Next Post

Napi Kendalikan Transaksi Sabu 126 Kg, Lapas Bontang Akui Kecolongan

BACA JUGA

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

16 Juli 2026 | 16:14
Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

16 Juli 2026 | 15:56
Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

16 Juli 2026 | 15:28
Next Post
Napi Kendalikan Transaksi Sabu 126 Kg, Lapas Bontang Akui Kecolongan

Napi Kendalikan Transaksi Sabu 126 Kg, Lapas Bontang Akui Kecolongan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

15 Juli 2026 | 21:43
Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

15 Juli 2026 | 16:21
Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

15 Juli 2026 | 23:21
Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

15 Juli 2026 | 13:16
Sabu 2,34 Gram Gagal Edar, 2 Pria di Bontang Baru Masuk Bui

Sabu 2,34 Gram Gagal Edar, 2 Pria di Bontang Baru Masuk Bui

15 Juli 2026 | 13:45

Terbaru

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

16 Juli 2026 | 23:14
Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Pranala.co

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved

Jalan Seruling 4 RT 21 No. 74E Kel Bontang Baru, Kec Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur Telepon : 0811-5423-245 [Marketing/Redaksi] Email: pranaladotco@gmail.com

  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved