SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) serius menggarap potensi peternakan non-ruminansia. Salah satunya babi.
Lewat Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP), Pemkab Kutim mengalokasikan dana Rp2 miliar pada 2024. Fokusnya, meningkatkan populasi ternak sekaligus mendongkrak ekonomi warga.
Dari total anggaran itu, Rp1 miliar digunakan khusus untuk pengadaan bibit babi. Bibit tersebut disalurkan ke empat kecamatan yang dinilai punya potensi besar: Teluk Pandan, Rantau Pulung, Kaliorang, dan Busang.
“Penyaluran dilakukan bertahap sesuai kesiapan kelompok ternak,” ujar Plt Kepala Bidang Peternakan DTPHP Kutim, Sudarman, Rabu (13/8).
Bibit yang dibagikan masih ratusan ekor. Beratnya rata-rata 12–15 kilogram per ekor. Semua bantuan berawal dari proposal resmi kelompok ternak. Setelah syarat terpenuhi, tim DTPHP bersama perangkat desa dan kecamatan memastikan distribusi berjalan transparan dan tepat sasaran.
Sudarman menegaskan, pengembangan peternakan babi bukan hal baru di Kutim. Beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah konsisten mendorong sektor peternakan non-ruminansia. Tujuannya, memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Dengan pengelolaan yang baik, bibit bisa berkembang biak. Manfaatnya dirasakan penerima bantuan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Selain bantuan bibit, DTPHP juga memberi pendampingan teknis. Materinya beragam: manajemen kandang, teknik pemberian pakan, hingga pencegahan penyakit ternak.
Keberhasilan program ini, kata Sudarman, bergantung pada keseriusan peternak. “Siklus pertumbuhan babi relatif cepat. Kalau dikelola baik, keuntungan ekonomi bisa diraih dalam waktu singkat,” tegasnya.
Menurutnya, sektor peternakan punya peran penting sebagai penopang ekonomi pedesaan. Dengan modal bibit yang tepat dan dukungan pemerintah, peternak bisa mengembangkan usaha ke skala lebih besar.
“Kalau hasilnya baik, bukan hanya keluarga penerima yang diuntungkan. Roda perekonomian lokal juga ikut bergerak,” pungkas Sudarman. (HAF)















