Pranala.co, PANGKEP — Bel sekolah masih berbunyi di SD Negeri 9 Butung-Butungan. Namun, di balik aktivitas belajar itu, tersimpan kecemasan yang tak kecil.
Bangunan sekolah dasar yang berada di Pulau Kanyurang, Kecamatan Liukang Kalmas, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, kini dalam kondisi memprihatinkan. Atap roboh. Balok kayu lapuk. Beberapa ruang kelas tak lagi aman digunakan.
Warga setempat mulai angkat suara. Harun, warga Butung-Butungan, menyebut kerusakan sekolah sudah berlangsung lama. Namun hingga kini, belum ada perbaikan berarti.
“Sudah lama rusak. Atap dan balok kayunya banyak yang roboh. Dua bangunan paling parah, kantor dan ruang kelas,” ujarnya, Selasa (30/12/2025).
Menurut Harun, kondisi itu bukan sekadar soal kenyamanan. Keselamatan siswa dan guru menjadi taruhan.
Ia khawatir, kayu atau atap yang rapuh bisa jatuh sewaktu-waktu. Terutama saat hujan atau angin kencang.
“Jangan tunggu ada korban baru diperhatikan,” katanya tegas.
Masalahnya, rehabilitasi sekolah ini tersendat oleh persoalan klasik: status lahan.
Lahan tempat berdirinya SD Negeri 9 diketahui milik warga. Meski demikian, Harun menegaskan pemilik tanah sebenarnya telah memberi lampu hijau untuk perbaikan.
“Pemilik lahan sudah bilang silakan direhab. Asal ada kesepahaman, karena tanah itu memang milik warga,” jelasnya.
Harun bahkan mengaku sempat diminta camat setempat untuk mengukur luas bangunan sekolah. Totalnya sekitar 500 meter persegi dengan lima ruangan, termasuk kantor.
“Katanya mau ditindaklanjuti. Tapi sampai sekarang belum ada kabar,” ucapnya.

Ironisnya, bangunan kantor sekolah dilaporkan sudah roboh lebih dulu. Beberapa ruang kelas lain menyusul mengalami kerusakan berat.
Kepala SD Negeri 9 Butung-Butungan membenarkan kondisi tersebut. Ia menyebut persoalan lahan menjadi alasan utama belum dilakukannya rehabilitasi.
“Lahannya bermasalah. Ada tiga pemilik, saling tunjuk. Akhirnya kami serahkan ke pemerintah dan aparat desa,” katanya.
Ia menjelaskan, anggaran rehabilitasi berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan. Namun selama status lahan belum tuntas, perbaikan tidak bisa dilakukan.
Meski begitu, aktivitas belajar tetap berjalan.
“Saya menjabat sejak 2018. Bangunan ini masih dipakai. Kalau hujan atau angin kencang, anak-anak kami amankan,” ungkapnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















