Pranala.co, SANGATTA – Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Pemkab Kutai Timur (Kutim) mengalokasikan Beasiswa Stimulan pada tahun anggaran 2025 yang akan menjangkau 15.355 siswa jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Program ini menjadi bagian dari salah satu dari 50 program unggulan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman yang berfokus pada pemerataan akses serta peningkatan kualitas pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Beasiswa dirancang dengan pembagian penerima yang terstruktur. Pada jenjang SD, sebanyak 11.600 kuota diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu, sementara 700 kuota lainnya dialokasikan untuk siswa penghafal Alquran. Masing-masing penerima akan memperoleh bantuan stimulan sebesar Rp1 juta.
Adapun di tingkat SMP, Pemkab Kutim menyiapkan dana Rp1,5 juta per siswa untuk 2.700 siswa kurang mampu, 300 siswa penghafal Alquran, serta 55 siswa berprestasi.
Skema ini mencerminkan upaya pemerintah daerah agar tidak ada anak yang tertinggal dalam pendidikan karena kendala biaya, sekaligus mendorong budaya berprestasi di lingkungan sekolah.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa prioritas utama program beasiswa adalah membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
“Beasiswa ini kami berikan terutama untuk membantu siswa-siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu. Kami ingin meringankan beban orang tua sehingga anak-anak bisa fokus belajar tanpa perlu khawatir akan biaya penunjang pendidikan,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (29/1/2026).
Ia berharap bantuan tersebut tidak hanya menjadi dukungan finansial, tetapi juga pemantik semangat belajar bagi para siswa.
“Kami ingin beasiswa ini dipergunakan untuk memotivasi siswa agar semangat meraih prestasi, baik di bidang akademik, budaya, keagamaan, olahraga, maupun bidang lainnya. Ini adalah investasi kita untuk masa depan Kutai Timur,” tambahnya.
Melalui program ini, Pemkab Kutim menargetkan penurunan angka putus sekolah secara signifikan. Dana stimulan diharapkan dapat membantu orang tua memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, mulai dari seragam, buku, hingga perlengkapan belajar.
Penyaluran beasiswa yang menjangkau hingga pelosok desa juga menjadi sinyal bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi turut memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang lebih berkeadilan. (RIL)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















