• Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami
Sabtu, Juli 18, 2026
  • Login
Pranala.co
Advertisement
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
Pranala.co
No Result
View All Result
Home Warta

Sejarah Nusantara Bermula dari Kutai Kartanegara

Suriadi Said by Suriadi Said
6 Juni 2022 | 22:21
Reading Time: 4 mins read
0
Bagikan di FacebookBagikan di Twitter

pranala.co – Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia yang baru sudah ditetapkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Lokasi ibu kota baru di Kalimantan Timur, menggantikan DKI Jakarta. Sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Wilayah yang kini bernama Kutai Kartanegara, bukan kawasan asing dalam perpolitikan Nusantara. Lewat bukti-bukti arkeologis, sementara disimpulkan kalau di sanalah periode sejarah bangsa ini dimulai. Beberapa prasasti tertua ditemukan di tempat itu, paling tidak dari 17 abad yang lalu.

PILIHAN REDAKSI

Kukar jadi Penopang Kaltim di Kejurnas Taekwondo 2026, Sumbang 5 Medali

Kukar jadi Penopang Kaltim di Kejurnas Taekwondo 2026, Sumbang 5 Medali

26 April 2026 | 23:57
Kurir Dibayar Rp800 Ribu, Sabu Senilai Rp2,7 Miliar Dibawa Keliling Kukar, Satu Masih Buron

Kurir Dibayar Rp800 Ribu, Sabu Senilai Rp2,7 Miliar Dibawa Keliling Kukar, Satu Masih Buron

15 April 2026 | 22:50

Kerajaan di Kalimantan itu disebut sebagai salah satu yang memiliki tradisi tulis tertua di Nusantara. Namun, ia kurang populer di kalangan pelancong asing, tertutama dari Tiongkok.

Menurut W.P. Groeneveldt dalam Nusatara dalam Catatan Tionghoa, berita Tiongkok yang menyebut Kalimantan baru ditemukan dalam catatan Sejarah Dinasti Tang (618–906 M). Itu pun bukan tentang wilayah di timur Kalimantan, tetapi pantai utara dan barat Kalimantan.

Sementara itu, rekaman adanya utusan kerajaan Jawa ke kerajaan Tiongkok sudah muncul pada era Dinasti Han (206 SM–220 M), yaitu dalam catatan Hou Han Shu bab ke-6 dan bab ke-116. Sedangkan tentang Sumatra, sudah tercatat sejak awal abad ke-6, yaitu dalam catatan Sejarah Dinasti Liang (502-557 M).

“Sepertinya orang Tionghoa hanya sedikit saja atau tidak melakukan kontak dengan Kalimantan atau penduduknya,” catat Groeneveldt.

Kendati demikian, keberadaan Kerajaan Kutai tak diragukan. Buktinya tujuh prasasti yupa ditemukan di areal Muara Kaman, tepatnya di situs Banua Lawas. Meski tanpa angka tahun, dari hurufnya bisa diperkirakan prasasti ini berasal dari abad ke-5. Huruf Pallawa yang dipakai dalam prasasti itu dipakai di India pada periode yang sama.

Suwardono, pengajar pendidikan sejarah di IKIP Budi Utomo Malang dan guru sejarah dan antropologi SMA Negeri 7 Malang, dalam Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha menjelaskan yupa adalah sebutan bagi tiang dari batu untuk mengikat korban hewan persembahan bagi para dewa.

“Di Kerajaan Kutai, yupa tersebut rupanya mempunyai fungsi yang sama sebagaimana ternyata dari bunyi prasasti itu,” jelas Suwardono.

20200513 101521
Foto lama Prasasti Yupa di Museum Nasional, dari sekira 1930 dan 1955 (KITLV-Kemendikbud).

Semua prasasti itu, menurut George Coedѐs dalam Asia Tenggara Masa Hindu Buddha, dibuat ketika Raja Mulawarman berkuasa. Menurut salah satu prasasti, Raja Mulawarman adalah cucu seseorang bernama Kudunga.

“Namanya barangkali nama Tamil atau Austronesia, tetapi pasti bukan Sanskerta,” tulis Coedѐs.

Pengaruh India baru nampak pada ayah Mulawarman yang bernama Aswawarman. Nama ayah-anak itu sama-sama berakhiran -warman, nama yang sering dipakai raja-raja di India.

Prasasti itu menyebut Aswawarman sebagai pendiri dinasti. Dari situ juga dapat diketahui bahwa paling tidak pada abad ke-5 masyarakat Kutai sudah menerima pengaruh Hindu. Mereka mulai mendirikan kerajaan dengan pola pemerintahan di India. Setidaknya waktu itu sudah terdapat strata sosial. Bahasa Sanskerta menjadi bahasa resmi bagi golongan brahmana.

Salah satu prasasti menyebut Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana. Dalam prasasti lain, dia mengadakan kenduri emas yang sangat banyak. Hampir semua prasasti menjelaskan bahwa golongan brahmana yang mendirikan yupa sebagai peringatan kebaikan budi sang raja.

Golongan berikutnya adalah kaum kesatria. Mereka terdiri dari keluarga Mulawarman. Golongan ini mungkin masih terbatas pada keluarga raja. Kemudian ada golongan waisya yang diduga merupakan golongan pedagang.

Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang menjelaskan, dengan adanya temuan prasasti, bukan berarti proses budaya di Muara Kaman baru berawal pada abad ke-5.

Dalam artikelnya “Memberdaya Budaya Kutai Pada Titik Mula (Fajar Sejarah Nusantara)” di situs pribadinya patembayancitralekha, Dwi menyebut ada data gerabah di beberapa situs kubur yang memperlihatkan transisi budaya dari akhir masa prasejarah hingga awal periode Hindu-Buddha.

Bahkan ada temuan arca perunggu yang kira-kira berasal dari abad ke-2. Arca personifikasi tokoh Dhyani Buddha itu berada di situs Kota Bangun, yang merupakan kecamatan tetangga Muara Kaman.

“Tergambar bahwa pengaruh kebudayaan India telah menjangkau areal di sub-DAS Tengah Mahakam, setidaknya dua abad sebelum berdirinya Kerajaan Kutai di Muara Kaman,” jelas Dwi.

Menurut Dwi, sebagaimana tertuang dalam prasasti, pembawa pengaruh India itu datang ke timur Kalimantan karena tertarik dengan potensi alam, utamanya emas, minyak yang disebut dalam prasasti dengan “minyak kental”, dan gaharu. Komoditas itu pada awal tarikh Masehi banyak dibutuhkan di Asia Daratan hingga Eropa.

Kemunculan pusat pemerintahan di pedalaman Mahakam itu juga dipicu kebangkitan Kerajaan Fu-nan di Vietnam. Suwardono menjelaskan pada abad ke-3-6, kerajaan itu mendominasi kawasan Asia Tenggara. Ia makin berjaya pada abad ke-6. Para musafir Tiongkok berdatangan karena mengira negeri itu penuh emas, perak, dan mutiara.

Fu-nan lalu menguasai Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Dengan adanya tekanan yang memberatkan bagi pedagang dan kapal-kapal, mereka pun mencari jalan yang luput dari tekanan itu. Alternatifnya adalah wilayah di sepanjang Sumatra Barat, Selat Sunda, Laut Jawa, dan Selat Makassar. Ramainya lalu lintas pada rute itu, tak menutup kemungkinan munculnya kerajaan baru, Tarumanegara dan Kutai.

“Dapat dipahami jika kemudian Kutai seakan tiba-tiba lenyap sejak abad ke-6 dalam sejarah hubungan internasional. Sebab, Kerajaan Fu-nan waktu itu sudah hancur oleh Kerajaan Chen-la,” tulis Suwardono.

Kerajaan yang kemudian muncul adalah Sriwijaya. Ia menguasai Selat Malaka maupun pantai barat Sumatra. “Perbedaan sistem perdagangan yang dilakukan Sriwijaya membuat pedagang dan kapal-kapal sering singgah di sana. Maka matilah jalur perdagangan Selat Makassar, dan tenggelamlah Kutai dari perdagangan internasional,” tulis Suwardono.

Kendati begitu mungkin mereka bukannya sama sekali lenyap. Kutai hanya tak melanjutkan tradisi menulis prasastinya. Sementara kerajaan itu sebenarnya masih terus ada.

Bernard H. M. Vlekke dalam Nusantara, menyebut Kerajaan Kutai berganti menjadi Kesultanan Kutai, dekat muara Sungai Mahakam. Tawarikh kesultanan itu mencatat wilayah Muara Kaman yang ada sebelumnya.

Menurut Vlekke, sangat mungkin penguasa wilayah itu dan sekitarnya tak mampu memelihara kontak dengan India. Itu terutama setelah inisiasi mereka dengan pengetahuan para brahmana. “Mereka mungkin menjadi bisu lagi dan kita tak bisa belajar tentang nasib mereka,” tulis Vlekke.j [Historia]

Tags: Asal usulHeadlineHistoriIbu kota negaraKalimantan TimurKutai KartanegaraSejarah Kutai
Previous Post

STIS Hidayatullah Balikpapan Kirim 90 Mahasiswa ke 4 Provinsi

Next Post

Simpan Sabu di Kaos Kaki, Bandar Narkoba Diciduk

BACA JUGA

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

16 Juli 2026 | 16:14
Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

16 Juli 2026 | 15:56
Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

16 Juli 2026 | 15:28
Next Post
Simpan Sabu di Kaos Kaki, Bandar Narkoba  Diciduk

Simpan Sabu di Kaos Kaki, Bandar Narkoba Diciduk

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

15 Juli 2026 | 21:43
Bertemu Wali Kota , Bos Baru Pupuk Kaltim Bawa Misi Besar bagi Bontang

Bertemu Wali Kota , Bos Baru Pupuk Kaltim Bawa Misi Besar bagi Bontang

12 Juli 2026 | 19:01
Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

Bandar Sabu Bersenjata Digerebek di Muara Badak, Anak Buah Kabur Bawa Pistol

15 Juli 2026 | 16:21
Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

15 Juli 2026 | 23:21
Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

Pria di Bontang Buang Kemasan Susu saat Dicegat Polisi, Isinya Sabu Hampir 10 Gram

15 Juli 2026 | 13:16

Terbaru

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

16 Juli 2026 | 23:14
Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Pranala.co

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved

Jalan Seruling 4 RT 21 No. 74E Kel Bontang Baru, Kec Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur Telepon : 0811-5423-245 [Marketing/Redaksi] Email: pranaladotco@gmail.com

  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved