• Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami
Rabu, Juli 22, 2026
  • Login
Pranala.co
Advertisement
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara
No Result
View All Result
Pranala.co
No Result
View All Result
Home Warta

Selambai hingga Tanjung Limau Masuk Kawasan Kumuh Bontang

Suriadi Said by Suriadi Said
22 Mei 2026 | 08:03
Reading Time: 2 mins read
0
Selambai hingga Tanjung Limau Masuk Kawasan Kumuh Bontang TMMD Kodim Bontang Rehab Rumah Warga Lok Tuan, Atap Mulai Dibongkar

Kodim 0908/Bontang mulai merehabilitasi rumah tidak layak huni milik Baharudin di Jalan Kapal Layar RT 22, Kelurahan Lok Tuan, Kecamatan Bontang Utara, Kamis (14/5/2026).

Bagikan di FacebookBagikan di Twitter

PERSOALAN kawasan kumuh di Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) belum sepenuhnya selesai. Pemerintah Kota Bontang mencatat ada tujuh kawasan yang masih masuk dalam daftar kawasan kumuh berdasarkan surat keputusan penetapan sejak 2020.

Wilayah-wilayah itu tersebar di sejumlah titik padat penduduk dan dibagi berdasarkan kewenangan pemerintah pusat, provinsi, hingga pemerintah kota.

PILIHAN REDAKSI

Bukan Cuma Makanan, Rumah Tak Layak jadi Pemicu Stunting di Kaltim Atasi Sampah Pesisir, Kelurahan Tanjung Laut Indah Bontang Usulkan Jaring Pengaman Rp200 Juta

Bukan Cuma Makanan, Rumah Tak Layak jadi Pemicu Stunting di Kaltim

11 Juni 2026 | 15:42
Andi Harun Tancap Gas Benahi Kampung Tenun, Kawasan Kumuh Samarinda Tinggal 26 Hektare

Andi Harun Tancap Gas Benahi Kampung Tenun, Kawasan Kumuh Samarinda Tinggal 26 Hektare

28 Mei 2026 | 19:10

Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Bontang, Martinus, mengatakan kawasan dengan luas di atas 15 hektare menjadi tanggung jawab pemerintah pusat.

“Yang menjadi kewenangan pusat itu seperti Selambai dan Pantai Harapan karena luasnya di atas 15 hektare,” kata Martinus mengutip keterangannya, Jumat (22/5/2026).

Sementara kawasan dengan luasan 10 hingga 15 hektare masuk kewenangan pemerintah provinsi. Beberapa di antaranya ialah Tanjung Limau, Lok Tuan, dan Tanjung Laut Indah.

Sedangkan kawasan dengan luas di bawah 10 hektare menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bontang. Martinus menegaskan, status kawasan kumuh tidak ditetapkan secara sembarangan.

Ada tujuh indikator yang digunakan dalam penilaian. Mulai dari keteraturan bangunan, kondisi sanitasi, ketersediaan air bersih, jalan lingkungan, drainase, hingga sistem persampahan.

“Jadi tidak serta-merta disebut kumuh, ada indikator dan penilaian numeriknya,” ujarnya.

Penanganan kawasan kumuh di Bontang dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

Menurut Martinus, masing-masing instansi menangani indikator yang berbeda sesuai kewenangannya.

Persoalan sampah ditangani Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Proteksi kebakaran melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran. Sedangkan persoalan air bersih dan sanitasi menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum.

“Kalau terkait persampahan melibatkan DLH, proteksi kebakaran dengan Damkar, sementara air bersih dan sanitasi ditangani PU,” ujarnya.

Setelah penanganan dilakukan, pemerintah akan melakukan evaluasi ulang terhadap kawasan tersebut.

Tujuannya untuk melihat apakah tingkat kekumuhan mengalami penurunan atau belum. Jika seluruh indikator terpenuhi, status kawasan kumuh bisa diturunkan.

“Nanti kita nilai lagi setelah penanganan dilakukan. Kalau indikatornya sudah terpenuhi berarti kondisinya sudah membaik,” jelas Martinus.

Di tengah padatnya kawasan dan persoalan lingkungan yang masih muncul, Pemkot Bontang memastikan penanganan kawasan kumuh saat ini belum menyentuh relokasi warga.

Fokus pemerintah masih pada pembenahan lingkungan dan rumah masyarakat. Artinya, warga tetap tinggal di kawasan tersebut sambil menunggu proses penataan berjalan bertahap.

Kebijakan ini dinilai menjadi tantangan tersendiri. Sebab perbaikan kawasan kumuh membutuhkan perubahan infrastruktur sekaligus kesadaran lingkungan masyarakat secara berkelanjutan. [CK/WIL]

 

Dapatkan berita terbaru Pranala.co dengan mengikuti Whatsapp Channel kami

Tags: kawasan kumuhRumah Kumuh
Previous Post

Rupiah Tembus Rp17.688, Industri Batu Bara Kaltim Mulai Tercekik

Next Post

Soal Autisme di Bontang, Wali Kota Neni: Jangan Langsung Salahkan Industri

BACA JUGA

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

Deretan Momen Damkar jadi Penyelamat Pelajar Menerjang Banjir Rob Bontang Kuala

16 Juli 2026 | 16:14
Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

Balikpapan Bagikan 150 Ribu Stel Seragam Sekolah Gratis, Swasta hingga SPNF Kesetaraan Juga Dapat

16 Juli 2026 | 15:56
Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

16 Juli 2026 | 15:28
Next Post
Soal Autisme di Bontang, Wali Kota Neni: Jangan Langsung Salahkan Industri Disabilitas dan Lansia di Bontang Dapat Rp300 Ribu per Bulan

Soal Autisme di Bontang, Wali Kota Neni: Jangan Langsung Salahkan Industri

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

Bayi Usia 2 Hari Meninggal usai Dimandiin Perawat dan Diberi Susu, RS Santa Elisabeth Kutim Dipolisikan

15 Juli 2026 | 21:43
Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

Berdiri di Pinggir Jalan Awang Long Bontang, Keciduk Polisi Bawa 10,22 Gram Sabu

15 Juli 2026 | 23:21
Fakta-Fakta Dugaan Kelalaian Medis di RS Santa Elisabeth Bengalon Kutim yang Berujung Bayi Meninggal

Fakta-Fakta Dugaan Kelalaian Medis di RS Santa Elisabeth Bengalon Kutim yang Berujung Bayi Meninggal

16 Juli 2026 | 08:28
Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

Kecelakaan di Jalan Poros Bontang-Sangatta, Warga Samarinda Tewas Masuk Kolong Truk Tangki

16 Juli 2026 | 15:28
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04

Terbaru

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

Harga TBS Sawit Kaltim Naik, Tembus Rp3.477 per Kg Juli 2026

16 Juli 2026 | 23:14
Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

Hampir 50 Gram Sabu di Sangatta Kutim Gagal Edar

16 Juli 2026 | 23:01
Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

Demi Seragam Sekolah Gratis, Balikpapan Gelontorkan Rp30 Miliar

16 Juli 2026 | 22:38
Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

Bayi Meninggal di RS Santa Elisabeth Bengalon, Diskes Kutim Baru Tahu dari Media

16 Juli 2026 | 21:04
Pranala.co

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved

Jalan Seruling 4 RT 21 No. 74E Kel Bontang Baru, Kec Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur Telepon : 0811-5423-245 [Marketing/Redaksi] Email: pranaladotco@gmail.com

  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Warta
  • Niaga
  • Raga
  • Rupa
  • Suara

Copyright © 2026 Pranala.co. All rights reserved