Pranala.co, BONTANG — Pemerintah Kota Bontang sedang bekerja keras mempercantik wajah kota. Drainase dibenahi. Trotoar diperlebar dan dirapikan. Sejumlah ruas jalan utama pun tampak lebih bersih dan tertata.
Tujuannya: mengembalikan fungsi trotoar sebagai ruang aman dan nyaman bagi pejalan kaki.
Namun kenyataan di lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan harapan. Sebagian warga masih menjadikan trotoar sebagai tempat parkir kendaraan pribadi. Bahkan ada yang memanfaatkannya sebagai lapak berjualan. Akibatnya, area yang seharusnya ramah pejalan kaki justru menjadi semrawut.
Fenomena ini terlihat di sejumlah titik strategis. Mulai dari Jalan Ahmad Yani, Jalan P Suryanata, hingga Jalan R Suprapto dan Jalan MT Haryono. Dua kawasan terakhir bahkan baru saja selesai direvitalisasi.
Rizal (32), seorang pejalan kaki, mengaku kecewa. Trotoar yang baru diperbaiki tetap tidak bisa digunakan.
“Sayang sekali. Trotoarnya sudah bagus, tapi kami masih harus berjalan di jalan raya. Bahaya sekali,” keluhnya, Selasa (9/12/2025).
Keluhan senada disampaikan Cindy (28). Ia menilai pembangunan seharusnya dibarengi pengawasan ketat.
“Percuma dibangun kalau akhirnya dibiarkan. Harus ada ketegasan aturan,” katanya.
Mendengar keluhan itu, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni langsung merespons. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan peringatan kepada warga yang memarkirkan kendaraan di atas trotoar.
“Kami akan surati mereka. Tidak boleh seperti itu,” ujar Neni.
Terkait pedagang, Neni membolehkan aktivitas berjualan dengan syarat tidak menetap dan tetap menjaga kebersihan.
“Kalau mobile tidak apa-apa. Tapi harus tertib. Tidak boleh buang sampah sembarangan. Kalau permanen, ya jelas tidak boleh,” tegasnya.
Pemerintah menyadari trotoar bukan sekadar elemen estetika kota. Ia adalah infrastruktur keselamatan. Ketika fungsinya terganggu, pejalan kaki yang pertama menanggung risiko.
Revitalisasi trotoar seharusnya menjadi momentum untuk membangun kota yang lebih manusiawi. Namun tanpa disiplin bersama, penataan yang menghabiskan anggaran besar bisa sia-sia. Bahkan memperburuk ketertiban kota.
Bontang sudah memulai langkah baik. Kini tinggal bagaimana warganya ikut menjaga. Karena wajah kota bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik semua yang tinggal di dalamnya. (*)
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami















