SAMARINDA, Pranala.co – Ketergantungan Kalimantan Timur (Kaltim) terhadap pasokan sapi potong dari luar daerah masih sangat tinggi. Dari total kebutuhan tahunan mencapai 75 ribu hingga 80 ribu ekor sapi, hanya sekira 30 persen yang mampu dipenuhi peternak lokal.
“Artinya, sekira 70 persen dari kebutuhan daging sapi masih harus kita datangkan dari luar daerah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, dan Jawa,” ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim, Fahmi Himawan, belum lama ini.
Kondisi ini tergambar jelas pada Sabtu kemarin, saat sebanyak 497 ekor sapi potong asal NTT tiba di Pelabuhan Samarinda. Sapi-sapi ini diangkut menggunakan kapal ternak KM Camara Nusantara 2 dari Pelabuhan Tenau dan Wini, NTT.
Kehadiran ratusan sapi ini, menurut Fahmi, sangat membantu menjaga stabilitas pasokan daging sapi di Kaltim, terlebih menjelang hari-hari besar keagamaan di mana permintaan biasanya melonjak.
“Pengiriman seperti ini rutin dilakukan setiap bulan, tergantung pada kebutuhan pasar dan permintaan pengusaha,” tambah Suhendi.
Namun, Dinas Peternakan tidak tinggal diam. Guna mengurangi ketergantungan pada daerah luar, mereka tengah menggencarkan Program Pengembangan Desa Korporasi Ternak (PDKT) — program lanjutan dari Desa Korporasi Sapi (DKS) yang dimulai di Babulu, Penajam Paser Utara sejak 2019.
“Melalui PDKT, kami ingin meningkatkan kualitas dan kapasitas peternak lokal agar bisa mandiri secara ekonomi,” kata Fahmi.
Targetnya; 32 PDKT akan dibangun di seluruh Kalimantan Timur. Setiap desa korporasi ternak mendapat dukungan lengkap, mulai dari penyediaan rumput berkualitas, pembangunan kandang modern, hingga bantuan hewan ternak dan pendampingan teknis.
Saat ini, program PDKT telah berjalan di tujuh kabupaten/kota, yakni: Samarinda, Balikpapan, Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, Paser
Ke depan, Dinas Peternakan akan memperluas cakupan ke Penajam Paser Utara (PPU), Bontang, dan Mahakam Ulu. [RED/ANTARA]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan bergabung di grup Whatsapp kami



















Comments 1